“Assalamualaikum wr. wb. Nama saya Ibu Ida, profesi saya seorang guru. Mengapa saya mau bergabung ke S Lutena?
(Beliau menangis, dan hadirin terdiam, lalu audiens memberi support agar ibu Ida melanjutkan ceritanya). Suami saya sudah 12 tahun sakit diabetes. Sejak tahun 2011 ini suami saya kondisinya sudah begitu parah. Hingga suami saya kena saraf mata. Matanya sudah tidak bisa melihat dengan terang lagi.
Maaf ya ibu bapak, sebenarnya saya nggak mau menceritakan ini. Karena paling sedih hidup saya. Cobaan dari Allah paling kuat. Ya kalau masalah uang kurang masih bisa kita cari lagi tapi kebahagiaan ketika suami saya begitu turun kesehatannya tidak ada harganya dibanding yang lain. Terus suami saya di bulan Januari 2011 sudah kena matanya. Sudah dicek up seluruh tubuhnya ke dokter. Kebetulan suami saya dulunya kerja di Golden Word, kebetulan dia pinter berbahasa Inggris, dia dipakai di perusahaan itu.
Saya seminggu 2 kali membawa suami konsultasi ke Rumah Sakit Cipto yang ditangani oleh dokter Rizal dan dokter-dokter lainnya. Juga dokter Wina, karena mereka satu tim. Saya sempat berputus asa.
Ya Allah, sudah habis uang segini banyak kok suami saya nggak sembuh-sembuh. Bagaimana saya harus mencari uang lagi sementara saya sekarang ibaratnya menjadi tulang punggung keluarga. Namanya uang seberapa pun habis bu, ya buat pengobatan. Tapi saya ngga putus asa. Singkat cerita semua cara kami tempuh bu.



Jakarta, Diabetes atau kencing manis bukan satu-satunya ancaman yang dihadapi ketika kadar gula dalam darah meningkat. Menurut sebuah penelitian terbaru, kelebihan kadar gula darah juga berhubungan dengan peningkatan risiko kerusakan jantung.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Selama tahun 2007, dari 111 pasien diabetes yang dirawat dengan masalah kaki diabetetik, menunjukkan angka amputasi sebesar 35 persen, 30% diantaranya amputasi mayor dan selebihnya atau 70 amputasi minor, dengan angka kematian 15%. Demikian menurut data di ruang perawatan penyakit dalam RSUP Ciptomangunkusumo.
Yogyakarta, Mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Gadjah Mada (UGM), Muhammad Rijki, berhasil menemukan kandungan labu parang yang bisa dimanfaatkan untuk mengobati penyakit Diabetes Mellitus (DM) tipe 2. Penemuannya itu membuat Rijki memperoleh penghargaan Alltech Young Scientist Award. 










